Minggu, 18 Maret 2012

Batako


       Kalau mau tau tentang arti dari ‘penderitaan dan kesengsaraan’ yang sesungguhnya, Tanya aja langsung sama anak-anak kost. Karena percaya atau ga, anak kost telah mengalami dan merasakan asam garam kehidupan. Aku kost di daerah Padang. Aku tinggal bersama 5 anak orang . Kami menyebut diri kami “Batako”. Kepanjangannya Batak, Aceh Minang ko. Aneh. Ada dua cah ayu Jawa dan seorang gadis Deli disini. Tapi singkatan “Jawa dan Melayu” tidak di peruntukkan di Batako. Sedih memang bagi anak-anak yang di telantarkan orang tua ini.
            Aku punya teman sekamar, namanya Rara. Kadang dia di panggil Kodok atau Bang Qadar. Dia suka sangat dengan hal-hal yang berbau kodok. Anti sama kol yang disebutnya sebagai ‘lobak’. Dikamar sebelah ada Rera. Dia adalah abang paling macho di Batako. Makanan kesukaannya goreng-gorengan. Dialah kembang desa Sei Segiling. Lalu ada Lani si Bonsai. Suka banget sama bintang. Julukannya Bakri. Diput si Bang Toyib yang jarang pulang ke kost. Kalau inget Diput, aku jadi teringat uwak Bandes biadap itu. Dan ada Uci si Punuk, yang tinggal di kamar belakang. Toke piskar yang ga suka sama piskar itu sendiri. Suasana kost enak dan nyaman. Hanya saja janji manis Bapak kost untuk mengkeramik rumah ini tidak juga terlaksana. Rasanya menyakitkan. Jadi ada lagu khusus untuk bapak kost tercinta. “Surga yang engkau janjikan… neraka engkau berikan.. manis yang aku harapkan.. pahit yang aku rasakan..”
            Beda dengan kost-kostan lain, kost Batako ini pernah di singgahi berbagai macam makhluk tak sedap (bangga). Ada kelelawar yang terbang di langit-langit kostan, terus pernah juga ada kalajengking yang bersilaturahmi ke kamar Uci, ada kadal yang pernah nongkrong di kamarku, ada belatung yang kemudian bermetamorfosis jadi lalat gede yang menjijikkan. Tapi, seakan merasa di terima di kost, tikus dan tokek tetap setia menemani keseharian anak-anak Batako. 

Tidak ada komentar: