Kalau mau tau tentang arti dari ‘penderitaan dan
kesengsaraan’ yang sesungguhnya, Tanya aja langsung sama anak-anak kost. Karena
percaya atau ga, anak kost telah mengalami dan merasakan asam garam kehidupan.
Aku kost di daerah Padang. Aku tinggal bersama 5 anak orang . Kami menyebut
diri kami “Batako”. Kepanjangannya Batak, Aceh Minang ko. Aneh. Ada dua cah ayu
Jawa dan seorang gadis Deli disini. Tapi singkatan “Jawa dan Melayu” tidak di
peruntukkan di Batako. Sedih memang bagi anak-anak yang di telantarkan orang
tua ini.
Aku
punya teman sekamar, namanya Rara. Kadang dia di panggil Kodok atau Bang Qadar.
Dia suka sangat dengan hal-hal yang berbau kodok. Anti sama kol yang disebutnya
sebagai ‘lobak’. Dikamar sebelah ada Rera. Dia adalah abang paling macho di
Batako. Makanan kesukaannya goreng-gorengan. Dialah kembang desa Sei Segiling. Lalu
ada Lani si Bonsai. Suka banget sama bintang. Julukannya Bakri. Diput si Bang
Toyib yang jarang pulang ke kost. Kalau inget Diput, aku jadi teringat uwak
Bandes biadap itu. Dan ada Uci si Punuk, yang tinggal di kamar belakang. Toke
piskar yang ga suka sama piskar itu sendiri. Suasana kost enak dan nyaman.
Hanya saja janji manis Bapak kost untuk mengkeramik rumah ini tidak juga
terlaksana. Rasanya menyakitkan. Jadi ada lagu khusus untuk bapak kost
tercinta. “Surga yang engkau janjikan… neraka engkau berikan.. manis yang aku
harapkan.. pahit yang aku rasakan..”
Beda
dengan kost-kostan lain, kost Batako ini pernah di singgahi berbagai macam
makhluk tak sedap (bangga). Ada kelelawar yang terbang di langit-langit kostan,
terus pernah juga ada kalajengking yang bersilaturahmi ke kamar Uci, ada kadal
yang pernah nongkrong di kamarku, ada belatung yang kemudian bermetamorfosis
jadi lalat gede yang menjijikkan. Tapi, seakan merasa di terima di kost, tikus
dan tokek tetap setia menemani keseharian anak-anak Batako.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar